Alamat:
Jalan Pisangan Km. 4, Dusun Karen, Desa Surojoyo, Kecamatan Candimulyo, Kab. Magelang
Telepon: (0293) 3301875
Alamat:
Jalan Pisangan Km. 4, Dusun Karen, Desa Surojoyo, Kecamatan Candimulyo, Kab. Magelang
Telepon: (0293) 3301875


Candimulyo – Setelah sehari sebelumnya menyusuri lahan pertanian, pasar tradisional, dan lokasi usaha masyarakat untuk menggali informasi secara langsung, peserta Proyek Kolaboratif Agro-Inovasi 2026 SMAN 1 Candimulyo kini memasuki tahap baru. Pada hari ketiga pelaksanaan proyek, berbagai temuan lapangan mulai diolah menjadi gagasan produk inovatif yang berakar pada potensi lokal dan kebutuhan masyarakat.
Kegiatan diawali dengan apel pagi di lapangan sekolah yang sekaligus menjadi sarana evaluasi terhadap pelaksanaan proyek kolaboratif selama dua hari sebelumnya. Dalam kesempatan tersebut, guru dan fasilitator memberikan arahan agar peserta didik mampu memanfaatkan hasil investigasi sebagai dasar dalam menyusun inovasi produk yang relevan dengan kondisi masyarakat sekitar. Setelah apel selesai, seluruh peserta didik kembali ke kelas masing-masing untuk mengikuti rangkaian kegiatan sesuai jadwal yang telah ditetapkan.

Kegiatan hari ketiga merupakan kelanjutan dari investigasi lapangan yang telah dilaksanakan sehari sebelumnya. Data dan informasi yang diperoleh melalui wawancara dengan petani, pedagang, serta pelaku usaha lokal menjadi bahan utama bagi siswa dalam menyusun konsep produk inovatif yang akan dikembangkan pada tahap berikutnya.


Pada sesi awal, setiap kelompok menuliskan kembali hasil wawancara dan temuan lapangan yang telah diperoleh sehari sebelumnya. Berbagai informasi mengenai kondisi pertanian, potensi komoditas unggulan, kendala produksi, hingga peluang pemasaran dihimpun dan didiskusikan bersama anggota kelompok. Hasil tersebut kemudian dipresentasikan di depan kelas sehingga dapat menjadi bahan pembelajaran bersama antar kelompok.

Hasil investigasi menunjukkan bahwa beberapa komoditas lokal seperti singkong, pisang, dan ubi ungu memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk bernilai tambah. Selain memiliki ketersediaan bahan baku yang relatif melimpah, komoditas tersebut juga mengandung berbagai zat gizi yang bermanfaat bagi kesehatan sehingga dinilai memiliki peluang pasar yang cukup menjanjikan. Dari hasil wawancara, siswa juga menemukan berbagai tantangan yang dihadapi petani dan pelaku usaha, mulai dari fluktuasi harga hasil panen, keterbatasan pengolahan pascapanen, hingga masih minimnya inovasi produk berbasis komoditas lokal.
Dari hasil investigasi tersebut, peserta didik menemukan beragam potensi komoditas lokal yang dapat dikembangkan menjadi produk inovatif. Beberapa kelompok memilih singkong, pisang, ubi ungu, serta komoditas pertanian lainnya sebagai bahan dasar pengembangan produk. Berangkat dari temuan lapangan dan kajian kandungan gizi yang dilakukan, siswa mulai merancang produk olahan yang tidak hanya menarik tetapi juga memiliki nilai tambah bagi masyarakat.
Berbagai ide kreatif pun muncul dalam diskusi kelompok. Di antaranya adalah Stik Singkong, Pisang Aroma, dan Sweet Potato Choco Bread berbahan dasar ubi ungu. Setiap kelompok menyusun konsep produk mulai dari pemilihan bahan baku, proses pengolahan, perhitungan kebutuhan modal, desain kemasan, hingga memastikan produk yang dirancang memenuhi standar kehalalan. Melalui kegiatan ini, peserta didik belajar bahwa sebuah inovasi tidak hanya membutuhkan kreativitas, tetapi juga perencanaan yang matang dan dapat dipertanggungjawabkan.
Salah satu fasilitator proyek, Saifudin Arafat, menyampaikan bahwa kegiatan ini dirancang agar peserta didik tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu mengidentifikasi potensi lingkungan sekitar dan mengembangkannya menjadi gagasan yang bermanfaat.
“Kami ingin siswa belajar bahwa inovasi dapat lahir dari hal-hal yang dekat dengan kehidupan mereka. Potensi lokal yang selama ini sering dianggap biasa ternyata dapat menjadi sumber ide yang bernilai ekonomi,” ujarnya.
Suasana pembelajaran tampak hidup ketika siswa saling bertukar gagasan, memberikan masukan, serta mempertimbangkan berbagai aspek yang dapat meningkatkan kualitas produk yang dirancang. Guru dan fasilitator berperan aktif mendampingi jalannya diskusi, membantu siswa menghubungkan hasil investigasi lapangan dengan peluang pengembangan produk yang realistis dan berkelanjutan.

Kegiatan hari ketiga ini menjadi tahapan penting dalam Proyek Kolaboratif Agro-Inovasi 2026 karena peserta didik tidak hanya mengumpulkan informasi, tetapi juga mulai mengolah data menjadi gagasan yang solutif. Melalui proses tersebut, siswa dilatih untuk berpikir kritis, kreatif, mampu bekerja sama, serta memiliki jiwa kewirausahaan yang berakar pada potensi daerahnya sendiri.
Hasil rancangan produk yang telah disusun akan menjadi dasar bagi kegiatan berikutnya, yaitu penyempurnaan proposal dan pengembangan produk sebelum dipresentasikan pada tahap akhir proyek. Melalui tahapan ini, peserta didik tidak hanya belajar menciptakan produk inovatif, tetapi juga belajar memahami persoalan nyata di masyarakat serta merancang solusi yang relevan. Agro-Inovasi 2026 menjadi ruang belajar yang mempertemukan kreativitas, kepedulian sosial, dan semangat kewirausahaan dalam satu pengalaman pembelajaran yang bermakna.
📸 Dokumentasi lengkap kegiatan dapat dilihat melalui tautan berikut: