Alamat:
Jalan Pisangan Km. 4, Dusun Karen, Desa Surojoyo, Kecamatan Candimulyo, Kab. Magelang
Telepon: (0293) 3301875
Alamat:
Jalan Pisangan Km. 4, Dusun Karen, Desa Surojoyo, Kecamatan Candimulyo, Kab. Magelang
Telepon: (0293) 3301875


Kamis (13/8/2026) menjadi hari yang istimewa bagi keluarga besar SMAN 1 Candimulyo. Di tengah semarak rangkaian Kamis Bugar dan Gembira untuk menyambut Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, warga sekolah juga diajak berhenti sejenak untuk melihat ke dalam: merefleksikan tanggung jawab, memperkuat keteladanan, dan menyatukan langkah melalui Sarasehan Dialog Terbuka dari Hati ke Hati.
Mengusung tema “Satu Sekolah, Satu Hati, Satu Gerak”, sarasehan tersebut dipimpin langsung oleh Kepala SMAN 1 Candimulyo, Tri Lestari Asmorowaty, S.Pd. Kegiatan menjadi ruang bersama bagi guru, tenaga kependidikan, dan unsur pendukung sekolah untuk berdialog, menyampaikan pandangan, sekaligus membangun komitmen bersama bagi kemajuan SMANCA.

Mengawali kegiatan, peserta diajak melihat kembali berbagai hal yang selama ini masih perlu diperkuat dalam kehidupan sekolah, mulai dari kedisiplinan waktu, ketepatan masuk kelas, kerapian dan ketentuan berpakaian, hingga kepedulian terhadap prestasi serta rasa memiliki terhadap sekolah. Hal tersebut tidak ditempatkan sebagai upaya mencari kesalahan individu, melainkan sebagai bahan untuk bercermin dan berbenah bersama.

Pesan utama yang dibangun dalam sarasehan adalah bahwa setiap warga sekolah memiliki tugas dan kontribusi penting. Pembagian tugas dalam struktur sekolah bukan sekadar jabatan atau formalitas, tetapi merupakan amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Karena itu, pertanyaan yang dikedepankan bukan sekadar “Apa tugas saya?”, tetapi “Apakah saya sudah benar-benar menjalankan tugas saya dan apa dampaknya bagi murid serta kemajuan sekolah?”
Salah satu bagian penting dalam dialog adalah refleksi mengenai kedisiplinan. Kehadiran tepat waktu dan ketepatan guru memasuki kelas dipandang bukan hanya sebagai persoalan administrasi, tetapi sebagai bentuk penghargaan terhadap waktu siswa, proses pembelajaran, teman sejawat, dan tujuan sekolah.
Ketika bel pembelajaran berbunyi, siswa pada dasarnya telah menyatakan kesiapan untuk belajar. Karena itu, warga sekolah juga dituntut untuk hadir dan siap memberikan layanan pendidikan secara tepat waktu.
Hal yang sama berlaku dalam persoalan seragam, sepatu, kerapian, dan penampilan. Semua itu dipandang sebagai bagian dari bahasa keteladanan. Ketika sekolah mengajarkan siswa untuk disiplin, rapi, dan menghormati sekolah, maka perilaku orang dewasa di lingkungan sekolah juga menjadi bagian dari pembelajaran yang dilihat dan ditiru oleh siswa.
Sarasehan juga menegaskan bahwa kemajuan sekolah tidak mungkin dibangun oleh satu atau dua orang. Prestasi siswa, misalnya, merupakan hasil dari sebuah ekosistem yang melibatkan banyak unsur: guru mata pelajaran yang menemukan potensi siswa, wali kelas, BK, pembina, kesiswaan, sarana prasarana, tata usaha, humas, hingga dukungan kepala sekolah.
Dengan demikian, setiap warga sekolah dapat mengambil bagian dalam prestasi sekolah, baik melalui pembinaan, pendampingan, penyediaan fasilitas, administrasi, publikasi, maupun sekadar memberikan dukungan dan semangat kepada siswa.
Semangat tersebut kemudian diarahkan untuk mengubah pola pikir dari “Itu bukan tugas saya” menjadi “Itu mungkin bukan tugas utama saya, tetapi apakah saya bisa membantu?” Sebuah perubahan sederhana dalam cara pandang yang diharapkan mampu menumbuhkan budaya saling mendukung di lingkungan SMANCA.
Sesuai namanya, sarasehan juga membuka ruang dialog bagi peserta untuk menyampaikan pandangan, pengalaman, keterbatasan, maupun gagasan perbaikan. Peserta diberi ruang untuk berbeda pendapat, mengkritik kebijakan, menyampaikan ketidaknyamanan, hingga mengusulkan solusi.
Beberapa pertanyaan pemantik diarahkan pada persoalan yang dekat dengan kehidupan sekolah, seperti apa yang membuat warga sekolah sulit disiplin, apa yang menyebabkan semangat terkadang menurun, bagaimana memperbaiki komunikasi antarbagian, serta apa yang perlu dihentikan, dimulai, dan dipertahankan.
Pada bagian refleksi personal, peserta juga diajak menjawab satu pertanyaan sederhana namun mendalam:
“Kalau saya benar-benar mencintai sekolah ini, apa yang akan saya lakukan mulai besok?”
Jawaban tersebut kemudian diarahkan menjadi komitmen pribadi yang nyata, seperti datang lebih awal, masuk kelas tepat waktu, memperhatikan penampilan, lebih peduli terhadap prestasi siswa, aktif membantu kegiatan sekolah, menghargai teman sejawat, menjaga nama baik sekolah, dan berusaha menjadi teladan bagi siswa.
Sarasehan kemudian diarahkan pada komitmen bersama untuk membangun budaya sekolah yang lebih disiplin, peduli, kolaboratif, dan berorientasi pada pelayanan terbaik bagi siswa. Beberapa komitmen yang ditekankan antara lain hadir tepat waktu, siap sebelum pembelajaran dimulai, berpakaian pantas dan rapi, tidak menunda tugas, tidak bekerja sendiri, peduli terhadap prestasi sekolah, menjaga nama baik sekolah, menjadi teladan, serta berani melakukan refleksi dan perbaikan.
Semangat tersebut dirangkum dalam “5 Janji SMANCA”: Saya hadir tepat waktu; saya siap melaksanakan tugas; saya menjadi teladan; saya peduli pada prestasi sekolah; dan saya tidak berjuang sendirian.
Lebih dari sekadar forum diskusi, kegiatan ini diharapkan memiliki tindak lanjut nyata. Setiap bidang atau tim diarahkan untuk menentukan satu masalah utama yang ingin diperbaiki, satu target, tiga langkah nyata, satu indikator keberhasilan, serta waktu evaluasi. Dengan demikian, sarasehan tidak berhenti sebagai percakapan, tetapi berlanjut menjadi gerakan perbaikan yang dapat dirasakan dalam keseharian sekolah.
Pada akhirnya, sarasehan mengingatkan kembali bahwa SMAN 1 Candimulyo adalah rumah besar yang dibangun oleh seluruh warganya. Setiap orang boleh memiliki tugas yang berbeda, tetapi memiliki tujuan yang sama: memberikan pendidikan terbaik bagi siswa.
Satu sekolah. Satu hati. Satu gerak. Satu tujuan: SMANCA semakin maju.